Kreskit Periode 2013

Selamat datang di blog Kreskit (Kreativitas Kita). Jika Anda memiliki tulisan berupa artikel, opini, puisi atau cerpen silahkan kirim karya Anda ke email kreskit.uad@gmail.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Selasa, 09 April 2013

Resensi Sejarah Peradapan Islam



RIVIEW BUKU

Judul Buku     : Sejarah Peradapan Islam
Penulis            : Dedi Supriyadi, M.Ag.
Penerbit         : CV Pustaka Setia
Tahun terbit   : 2008
Jumlah Hal     : 336 halaman
Tebal buku     : 16 x 23 cm
Resensator      : Rio Pamungkas
Harga             : Rp 20.000,00
No. ISBN 979-730-928-2

 “ Tidak ada sejarah yang lengkap” terang sang penulis Dedi Supriyadi, M.Ag. dalam bukunya yang berjudul SEJARAH PERADABAN ISLAM. sang penulis mengatakan demikian agaknya bukan tanpa sebab karena memang kenyataannya kita hanya dapat mengalami suatu kejadian dari sebagian totalitas kejadian itu. Maka dari itu tak salah jika kita sering mendengar istilah sejarah berulang dan kita perlu belajar sejarah. Dua istilah terbutlah yang menjadi latar belakang penulis dalam mengungkap sejarah peradaban Islam baik secara subjektif maupun objektif.
Pada bagian awal buku ini pembaca akan diajak untuk memahami dan mengenal konsep sejarah, kebudayaan dan peradaban terlebih dahulu, mulai dari sejarah berdasarkan artian bahasa(etimologis) dan secara definisi makna(terminologis). Sejarah yang dalam bahasa Arab disebut tarikh memiliki berbagai macam definisi dan pemahaman yang beragam serta berbeda-beda dari para Ahli sejarah, seperti halnya perbedaan pendapat yang terjadi antara seorang sejarawan Gottschalk yang berpndapat bahwa sejarah tidak lebih dari sebuah rekaman peristiwa masa lampau manusia dengan segala sisinya, dengan Ibn. Khaldun yang berpandangan bahwa sejarah tidak hanya dipahami sebagai suatu rekaman peristiwa masa lampau, tetapi juga penalaran kritis untuk menemukan kebenaran suatu peristiwa pada masa lampau. Masih banyak lagi perbedaan pemahaman atas pemaknaan sejarah di dalam buku ini namun sedikit dapat ditarik kesimpulan bahwasannya buku ini mengartikan sejarah adalah sebagai suatu peristiwa pada masa lampau dengan unsur-unsur penting di dalamnya  seperti pelaku yaitu manusia, dan daya kritis dari peneliti sejarah. 
Berikutnya adalah apa itu kebudayaan, dari beberapa pengertian yang disuguhkan maka penjelasan yang dikutip dari buku The Wold Book Encyclopedia-lah yang kiranya paling rinci dan sistematik, dijelaskan bahwa kebudayaan adalah semua aktivitas manusia yang nyata termasuk prestasi dalam berbagai bidang, yang berlangsung dari suatu generasi manusia ke generasi berikutnya. Kebudayaan bermakna berbagai kegiatan yang menggunakan bahasa, menikah, membesarkan anak-anak, mencari nafkah, menjalankan pemerintah, berjuang dalam perang, dan ikut serta dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ada juga yang mengatakan Kebudayaan adalah pandangan hidup sebuah masyarakat, kemudian yang lain juga mengatakan kebudayaan adalah serangkaian cara hidup pada sekelompok masyarakat tertentu. Sekarang tergantung bagaimana cara kita untuk memaknai apa itu sebuah kebudayaan, terlepas dari itu sekiranya setelah kita membaca beberapa pengertian kebudayaan dari buku ini sedikit bisa membandingkannya dengan kehidupan kita di masa sekarang ini, sudahkah cukup berbudaya ataukah belum, tentunya yang dimaksud dalam hal ini adalah sebuah kebudayaan islam yang baik dan benar.
Kebudayaan dan peradaban mempunyai makna berbeda namun saling berkaitan satu sama lain, dari sudut pandang ilmu Antropologi yang sudah berkembang sekarang, penulis dalam buku ini membedakan pengertian antara kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan lebih banyak direfleksikan dalam seni, sastra, religi(agama), dan moral, sedang peradaban terefleksikan kedalam politik, ekonomi, dan teknologi. Ada banyak ahli sejarah yang sebelumnya mencoba membedakan dengan jelas antara kebudayaan dan peradaban seperti misalnya Koentjaraningrat yang membagi kebudayaan kedalam tiga wujud yaitu (1) wujud ideal, (2) wujud kelakuan, dan (3) wujud benda, dari ketiga wujud tersebut disimpulkan bahwa kebudayaan mencangkup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya. Kemudian ada juga H.A.R. Gibb didalam bukunya yang berjudul Whither Islam menyatakan bahwa Islam sesungguhnya lebih dari  sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna. Namun dari berbagai macam pengertian yang dihadirkan oleh para ahli sejarah, tampaknya masih belum ditemukan sebuah perbedaan yang jelas dalam memaknai arti kebudayaan maupun peradaban, akan tetapi didalam buku ini penulis mencoba memberi sedikit gambaran ringkas dari pendapat Oswald Speengler yang dikutip samuel P. Huntington, bahwa kebudayaan adalah untuk menunjuk upaya-upaya manusia yang masih terus berlanjut(proses), sedangkan peradaban untuk menunjukkan titik akhir dari kegiatan mereka dimasa itu(hasil).
Setelah mengetahui konsep-konsep dasar dalam mempelajari dan memahami sebuah sejarah pembaca akan mulai diajak memasuki peristiwa-peristiwa yang ada dalam sejarah peradaban islam mulai dari Islam periode klasik, periode pertengahan hingga periode modern sekarang ini. Dari kisah dan peristiwa yang ada maka dapat dilihat bagai mana grafik naik turunnya peradaban Islam pada masa itu, seperti peradaban Islam pada masa Arab Pra-Islam, islam pada masa Nabi Muhammad SAW, berkembangnya Islam hingga menjadi negara besar pada masa Dinasti Bani Umayah, berkembang pesatnya ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah, islam pada masa lima khalifah besar dan khalifah-khalifah islam setelah itu hingga pada khalifah terakhir yaitu pada masa Abdul Majid II tahun1922-1924 M .
Islam dibawa dan disebarkan oleh salah seorang keturunan Quraisy, suku yang terkuat dan berpengaruh di Arab bernama Muhammad bin Abdullah. Sejak muda Muhammad sudah memiliki gelar al-amin yaitu orang yang tepercaya. Yatim piatu sejak berumur 6 tahun Muhammad tinggal beersama sanak saudaranya, mula-mula dengan kakeknya Abdul Muthalib, ia hidup bersama kakeknya kurang lebih 2 tahun karena Abdul Muthalib meninggal dalam keadaan yang memang sudah sangat renta, berikutnya ia diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Muhammad menjadi seorang Nabi kira-kira pada saat dirinya berumur 40 tahun. Ketika berumur 25 tahun Nabi Muhammad menikah dengan seorang saudagar wanita kaya raya yang sudah lama menjanda bernama Khadijah. Khadijah adalah seorang istri yang sangat disayanginya segaligus wanita pertama yang masuk Islam dan membantu Nabi Muhammad dalam menyebarkan Islam hingga akhir hayatnya. Islam muncul dan berkembang di sebuah masyarakat yang bisa dikatakan sangatlah rusak atau sering dinamakan sebagai zaman jahiliyah yaitu di kawasan Arab Mekah dimana mayoritas dari masyarakat adalah penyembah berhala. Sungguh bukan perkara yang mudah bagi seorang Muhammad yang mengemban misi risalah langit untuk mengubah keadaan yang sedimikian rupa. Sejak didapatnya petunjuk dari Allah melalui malaikat jibril tepatnya pada saat Nabi merenungi nasib kaumnya di dalam keheningan Gua Hira, Maka sejak itulah awal sejarah penyebaran dan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan ajaran Islam dimulai.
Kemunduran Islam terjadi mulai pada 1250-1500 M. Pada masa ini penyebab terbesar mundurnya era kejayaan Islam ialah karena serangan dari Jengis Khan dan keturun-keturunanannya yang datang dari Mongolia. Penyebab yang lain kemunduran Islam ialah pecahnya Islam menjadi kerajaan-kerajaan kecil, tidak adanya lagi khalifah yang diakui sebagai lambang persatuan umat Islam, serangan dari raja-raja kristen, terbaginya Islam kedalam dua golongan besar yaitu kaum Sunni dan kaum Syi’ah, adanya pengaruh tarikat-tarikat dan berkurangnya perhatian pada ilmu-ilmu pengetahuan.
Islam mulai beranjak bangkit kembali semenjak munculnya tiga kerajaan besar yaitu kerajaan Ustmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia dan Kerajaan mughal di India. Akan tetapi kemajuan Islam pada periode kedua ini tampaknya cenderung pada aspek politik saja, perkembangan Islam di masa ini sangat kurang perhatiannya pada ilmu pengetahuan, berbeda dengan kemajuan Islam pada gelombang pertama yang merata pada semua aspek kehidupan. Diceritakan pula dalam di buku ini, bersamaan pada masa dimana Islam mencoba untuk bangkit kembali, bangsa Barat yaitu kawasan Eropa juga mulai bangkit terutama setelah terbukanya jalan ke pusat rempah-rempah dan bahan-bahan mentah di timur jauh, melalui Afrika selatan dan dijumpainya Amerika oleh Colombus pada tahun 1492 M akantetapi dibandingkan dengan kekuatan bangsa barat pada waktu itu, kekuatan islam masih lemah.
Islam periode modern terjadi di Turki setelah perang Dunia 1 yakni dibawah pimpinan mustafa Kemal dalam usahanya merombak sistim pemerintahan negara yang terpengaruhi oleh kekuasaan asing, kemudian pergolakan Mesir untuk melepaskan diri dari jajahan Inggris, Asia barat, Iran dengan tokoh terkenalnya Khomaeni, anak benua India khususnya pada wilayah India utara dan provinsi perbatasan barat laut India yang sekarang menjadi negara bagian pakistan, berikutnya adalah Eropa dengan minoritas muslimnya dngan semangat umat yang tinggi meski dengan berbagai macam tantangan juga peluang di negara yang mayoritas non-Muslim, dan yang terakhir dijelaskan dalam buku ini adalah perkembangan Islam di Amerika, namun proses masuknya Islam di Amerika sendiri masih bersifat spekulatif karena tidak ada teori yang tegas menerangkan tentang kronologis datangnya Islam ke Amerika.

Bagaimana mungkin sebuah peradaban besar yang mashur dan sangat berjaya dimasanya bisa hilang begitu saja dari sejarah tanpa meninggalkan pengaruh pada masa-masa sesudahnya, sesuatu hal yang  hampir tidak mungkin terjadi. Besar kecilnya pengaruh sebuah peradapan pada era atau masa sesudahnya ditentukan dari tinggi rendahnya nilai kebudayaan yang terdapat dimasa itu. Semakin tinggi nilai kebudayaan yang dibangun pada suatu peradaban maka semakin tajam dan jelas pula sejarah yang digoreskannya. Bukan hanya dari segi kebudayaan, semangat dan kemauan masyarakat pada suatu masa peradaban tertentu dalam menyebar luaskan wilayah maupun pengaruhnya pada dunia juga akan semakin memberi bekas yang nyata pada masa atau era selanjutnya ketika peradaban tersebut sudah berakhir atau tergantikan. Demikian halnya dengan sejarah peradaban Islam, Islam tidak serta merta hadir tanpa suatu rangkaian peristiwa, akan tetapi peristiwa ini bukanlah sebuah cerita atau pun sekedar dongeng sebelum tidur, Islam bisa ada hingga saat ini dari awal sebuah titik perjalanan yang sangat lampau yaitu pada zaman Nabi Muhammad SAW seperti yang sudah dijelaskan di atas memiliki banyak momen dan kejadian penting yang harus dipelajari. Ada hal yang menyebabkan dan melatarbelakangi Islam sehingga begitu dikenal dan dianut sebagai salah satu Agama terbesar di Dunia. Lantas apa gerangan yang melatar belakangi Islam berkembang begitu pesat samapi pada era modern sekarang ini ?, tentu pembaca banyak sedikit sudah mulai paham setelah selesai membaca buku kecil namun memiliki keruntutan dalam penyampaiannya.
Buku ini seperti yang sudah dijelaskan di awal oleh penulis yakni “ Tidak ada sejarah yang lengkap”, menyajikan sejarah-sejarah islam dari awal hingga akhir dengan penuh kehati-hatian dan atas pertimbangan dari berbagaimacam metodelogi pendekatan serta referensi-referensi terpercaya. maka dirasa sudah saatnya kita sebagai manusia yang tinggal di era modern, pada peradaban terbaru saat ini untuk mengetahui semua kebenaran dari sebuah sejarah yang ada, tidak hanya mendengar desas-desus suatu peristiwa dan kemudian langsung mempercayainya, namun seperti apa yang sudah dilakukan penulis, paling tidak kita bisa mengambil hikmah serta kritis dalam menghadapi kenyataan yang ada khususnya bagi kita umat Islam itu sendiri.

(Rio Pamungkas)

By Blog KRESKIT with No comments

Sadar Karena Musibah


Cerpen Rio Pamungkas

            Kaliman adalah sebuah desa kecil yang berada didekat bantaran anak sungai bengawan solo. Desa yang sejuk dengan pepohonan sejenis mangga, kedondong, dan mlinjoini seakan menjadi payung payung raksasa yang siap meneduhkan hati bagi siapa saja orang yang melewatinya. Pagi itu udara sangat sejuk, seakan tak mau kalah dengan embun pagi, padi padi yang masih menghijau pun turut menyambutku dengan lambain lentik sulur daunya sepanjang perjalananku ke sekolah. Sekolahku memang terletak di Desa tetangga dan perjalanannya harus melewati pematang sawah sekitar 2 Kilo, jarak yang cukup menyebalkan untuk seukuran anak SMP sepertiku. Sebut saja namaku Lia, gadis desa 14 tahun yang suka mandi di kali, bukan hanya aku, Dhani,  Indri dan juga Agung adalah sahabat sahabat setiaku yang juga sama gemarnya menjadi petualang air. Aku adalah seorang anak petani yang kesehariannya selain bersekolah adalah membantu Ibu menanam padi saat musim tanam juga memanen padi saat musim panen telah tiba.
Menjadi seorang anak yatim memang terbilang menyedihkan untuk aku jalani, namun aku tak pernah patah semangat karena aku masih mempunyai seorang Ibu yang dengan tulus membesarkanku sampai sekarang. Ayah memang telah lama wafat, saat itu umurku barulah genap 6 tahun, sebuah peristiwa yang tidak pernah bisa aku lupakan dan menjadi pelajaran hidupku hingga aku beranjak dewasa.
***
“Pak tadi pagi Bapak dicari Pak Lurah, katanya ada perlu” ujar Ibu.
Ayah yang baru saja pulang dari membersihkan hama rumput di sawah padinya segera bergegas menuju balai desa yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah.
“Ayah..., Lia boleh ikut?” pintaku.
“Jangan.., Lia temani Ibu saja dirumah, Ayah cuman ada urusan sebentar ko” jawab Ayah.
“Ayolah yah..., ajak Lia.., Lia ingin jalan jalan sama Ayah..”
“Sudahlah Pak..., diajak saja anaknya, bapak dari seharian juga disawah, Lia anak kita merasa kehilangan ayahnya” sahut Ibu.
“Tapi...”
“Sudah ajak saja daripada Lia ganggu Istrimu ini masak lodeh kesukaanmu. Apa mau nanti jadi keasinan gara gara dimasukin garam sama anakmu?”
“Yasudah kalo gitu..”
Aku dan ayah akhirnya berangkat bersama menuju balai desa, sesuai apa yang telah disampaikan Ibu yang mendapat amanah dari Pak lurah. Seakan tamu kehormatan, sesampainya dibalai desa kami langsung disambut oleh warga yang sudah lebih dulu hadir dan tak lama kemudian Pak lurah juga datang menghampiri kami berdua yang kelihatannya memang kamilah yang paling terakhir datang.
“Maaf Pak lurah, saya baru pulang dari sawah, tadi ada sedikit masalah di sawah, bnyak smpah masuk ke irigasi” ujar Ayah.
“Oh ya, Pak Joyo tidak perlu khawatir, kita juga baru akan mulai” sahut Pak Lurah.
“Ngomong-ngomong rapatnya mau bahas masalah apa ya pak?”
“Anu.., itu lho Pak.., air di tanggul udah sangat tinggi gara gara hujan yang terus terusan turun minggu minggu ini, soalnya resapan air di sekitar tanggul penuh dengan sampah warga bantaran sungai” jawab Pak lurah.
Ayah dan pak lurah kemudian masuk ke dalam pendopo yang memang sudah sejak dulu  dijadikan tempat untuk berkumpul warga baik acara rapat maupun acara keagamaan, bahkan terkadang juga acara resepsi pernikahan diadakan di tempat tersebut karena saking luasnya. Bukan hanya itu pendopo desa kami memang terkenal indah dan megah apalagi dengan ukir ukiran khas Jawanya.
Selang beberapa saat acara dimulai aku melihat Indri memanggil manggilku dari balik pohon dekat pendopo.
“Lia..., sssth... Lia.., sini...!”
“Ya... sebentar In..” aku bergegas menghampirinya dan ayah pun membiarkanku pergi menemui temanku.
“Ayo ke kali.., airnya lagi banyak.., Dhani sama Agung udah nungguin nih, cepet !”
“Sip.., aku juga mumpung lg belom mandi dari pagi, ahihihi..”
“Ih.. dasar Lia.. jorok banget..., aku joga belom, hahaha” kamipun tertawa terbahak bahak.
Tak lama kemudian kamipun tiba di pinggir kali yang favorit tempat kita biasa mandi, yakni kali di pinggir waduk, di sana sudah ada Dhani dan Agung yang sejak tadi menunggu kedatangan kami di bawah pohon pisang dekat kali.
“Lho.. kok ada monyet dipinggir kali sih..” ledekku.
“wuu... udah telat pake ledekin kita kamutu Ia..” sahut Dhani.
“Ia nih.., Dhani kan kebo bukan monyet” celetuk Agung.
“Asem.. kamu Gung, mau aku dudukin apa badanmu itu biar remuk sekalian” balas Dhani.
“Udah udah.., kaok jadi pada berantem sih, katanya mau main dikali?” sambungku.
“Siip... deh kalo itu..” jawab Dhani dan Agung serentak.
Dhani memang punya postur yang cukup gendut dan Agung mempunyai badan yang kurus, namun kalo masalah renang baik Dhani maupun Agung tidak bisa diremehkan meskipun kita masih precil, sedangkan Indri anak perempuan yang punya postur paling tinggi diantara semuanya meskipun kita semua seumuran, sedangkan aku yang paling pendek tapi kulitku adalah yang paling putih karena konon katanya nenekku adalah keturunan Cina.
Kamipun satu persatu mulai menceburkan diri ke kali, byur byur byur..,masing masing dari kami meloncat dari dahan pohon mangga yang memang posisinya menjorok ke atas kali, namun aku heran karena tidak melihat Agung ikut menceburkan diri.
“Dhan.., Agung kemana..?” tanyaku
“Ndak tau.., perasaan dia tadi dibelakangku Ia”
Tiba tiba dari arah belakang muncul Agung yang naik di atas pohon pisang yang dibuat seperti rakit. Ternyata Agung memang sengaja tidak ikut melompat karena ingin menunjukkan mainan barunya kepada kami.
“Wuih,. Kreatif juga kamu Gung..” tukas Indri.
“Ia.., boleh dong aku ikut naik?” pinta Dhani.
“wuh... ya jangan.., bisa tenggelam ini kapalku kalo kamu yang naikin,” jawab Agung
“Ahh... ga asik kamu Gung..., punya mainan di pake sendiri, dasar pelit..” celetuk Dhani.
“Hala... yasudah to.., kamu ga usah ikut naik kan ga apa tho Dhan.., lha kamu ga naik apa apa juga udah ngapung kok” sahutku.
“Hahahahah... “ Semuanya tertawa.
Saat kami sedang asik mandi dikali tiba tiba hujan turun, namun seakan tak perduli justru kita makin asik main dikali, dan di sisi lain Ayah yang sudah selesai melaksanakan acara rapat kebingungan mencariku karena sesampainya dirumah Ayah tidak mendapatiku dan hujanpun justru semakin deras turun sehingga semakin membuat Ayahku cemas.
“Buk.. lia anak kita kemana?”
“Lho... Bapak ini gimana tho.., kan tadi pergi sama Bapak..” jawab Ibu.
“Aduh..., kemana perginya anak ini, udah ujan begini kok tidak pulang pulang?”
“Piye Pak..., cepet dicari.. nanti anak kita kenapa napa..!” pinta Ibu.
Ayah dengan tergopoh gopoh mengambil payung yang tersandar di samping pintu lalu segera mencariku tanpa banyak tanya lagi.
***
“Lia.., Pulang yuk... aku takut Bapak Ibuku nyariin aku..” ajak Indri.
“Ahh.. nanggung Ndri..., lagi asik nih kita..., airnya jadi berombak kaya dilaut..” sahut Dhani.
“Ia nih Ndri.. lagi asik.., bentar lagi yah, kapal kapalannya seru nih” rayuku.
Tak lama kemudian air tiba tiba bergelombang kuat, kami yang tadinya asik bermain pun menjadi takut dan segera menuju ketepian. Agung yang berada di atas rakit langsung meloncat ke air dan berenang menepi begitu juga Dhani, sedangkan aku dan Indri masih di atas rakit.
“Lia.. ayo cepetan ke tepi..”
“Ia bentar.., aduh.. kakiku kejepit ini...” jawabku
“Lia.. aku takut nih..,” Indri semakin takut dan terlihat hampir menangis.
“Yasudah kamu duluan aja, aku nyusul bentar lagi”
Indri pun menyusul Agung dan Dhani yang sudah hampir sampai ke tepi, sedang aku sibuk mencabut kakiku yang terjepit diantara sela-sela rakit yang terbuat dari batang pohon pisang. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan nampak air bah yang menderu menuju tempatku berada. Seketika itu aku hanya bisa berteriak dan menangis minta tolong. Agung dan Dhani  yang sudah sampai ke tepi pun hanya bisa memanggilku dan berteriak minta tolong, sedangkan Indri hanya menangis melihatku tak berdaya di tengah tengah kali yang semakin membuatku terombang-ambing.
Air bah semakin mendekat dan aku hanya bisa pasrah, ketika aku sudah merasa sudah tidak ada harapan lagi tiba tiba terdengar suara seseorang meloncat ke arahku. Byur..., nampak seseorang berenang dengan cepat ke arahku, aku pun hanya bisa berdoa semoga aku bisa segera diselamatkan. Betapa terkejutnya aku ketika aku tahu orang yang berenang kearahku adalah Ayahku sendiri yang sedari tadi mencariku karena tak kunjung pulang. Ayah melepaskan kakiku dari sela batang pisang dan kemudian menggendongku sambil berenang menuju ketepian, namun ketika aku dan ayah hampir sampai ketepi tiba-tiba air bah menghantam kami dan yang terakhir dapat ku ingat saat itu tubuh kecilku terlempar ke pinggir sungai dan ayahku sendirilah yang melemparkanku. Didepan mataku sendiri aku melihat Ayah tergulung arus sungai hingga tak terlihat lagi tubuhnya, tubuh yang setiap hari kulihat, tubuh yang selalu sabar memelukku ketika aku hendak tidur, tubuh yang selalu menyayaiku tanpa pertanyakan apa yang bisa kau baktikan pada Orang Tua. Aku menais, menangis sejadi jadinya. Namun suara hujan dan guntur yang semakin menjadi jadi seakan tak mau kalah dengan jeritan kesedihanku. Aku memanggil ayahku berulang ulang, “Ayah.... Ayah... Ayah...,” namun tak kudengar juga suara Ayahku membalas panggilanku.
***
Sejak saat itu aku menjadi seorang anak yatim, Ayahku dapat ditemukan warga pada esok harinya setelah warga bersama sama menelusuru sungai tempatku bermain, Ibuku yang sudah lama menunggu akhirnya jatuh pingsan ketika melihat jasad Ayahku berhasil ditemukan dan aku pun hanya bisa meratapi kenakalanku sambil menangis tak henti-hentinya. Beberapa hari setelah musibah terjadi terdengar kabar warga bahwa air bah yang saat itu menghantam desa kami terjadi karena sampah-sampah yang dibuang kesungai dan nyebabkan volume air naik sehingga terjadilah banjir. Sejak saat itu warga tidak lagi membuang sampai di Kali-kali, dan aku yang kehilangan sosok Ayah selalu melihatnya tersenyum ketika aku duduk melihat jernihnya air di Desaku.
“Ayah...”
Rio Pamungkas
Yogyakarta, 29 Februari 2013

By Blog KRESKIT with No comments

Memotret di Dalam Air



Produk untuk Anda yang hobi fotografi dalam air, yang hobi berpetualang dalam air. Kini telah hadir kamera air teruntuk Anda.

Kamera air adalah kamera untuk memotret dalam air. Anda bisa bebas memotret hal-hal yang menarik dalam air. 

•Deskripsi:
Focus Free- 28mm f/9.0 Picture Taking Lens- Easy Film Loading System- Thumb-Wheel Film Advance System- Wrist Strap Included- Detachable Waterproof Casing
•Cara Menggunakan Kamera Air:
Kamera harus digunakan pada tempat yang terang / intensitas cahayanya yang cukup..
hal itu karena kamera ini tidak menggunakan baterai jadi tidak mempunyai flash.
Catatan: Apabila intensitas cahaya buruk/kurang, kemungkinan besar hasil nya akan gelap..
•Cara Pemasangan Roll Film Kamera Air
Setelah Film terpasang dengan baik dan penutup telah ditutup; pastikan bahwa anda telah memutar putarannya sampai mentok atau makimal; apabila setelah 1x jepret lalu pada putaran berikutnya putarannya tidak maksimal; artinya film nya telah terlepas dari kaitan filmnya. Oleh Karena itu harus diulang lagi proses pemasangan filmnya. Selamat mencoba!(Nsw)



Dikutip dari berbagai sumber





By Blog KRESKIT with No comments

Kamis, 04 April 2013

Puncak Acara Lomba Menulis Puisi KSS PBSI UAD


 
Hari Rabu, tepatnya tanggal 3 April 2013 terasa begitu khitmat. Sekitar pukul 20.00 WIB, Hall yang biasanya sudah sepi dari hiruk pikuk mahasiswa terdapati sekitar 35 mahasiswa PBSI, mereka duduk diatas tikar menghadap podium biru berhimpit sisi dinding berlambangkan UAD. Jika dilihat sepintas hal ini cukup memberi tanda tanya bagi mereka yang tak tahu sedang ada acara apakah malam itu. Manusia Cinta, itulah tulisan yang terpampang di ruangan yang sudah ditata sedemikian rupa. Benar saja, malam itu adalah puncak acara diumumkanya lomba menulis puisi yang diadakan oleh pihak KSS PBSI.
Kelompok Studi Sastra Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (KSS PBSI) memang punya banyak andil dalam merangkul para Mahasiswa PBSI yang punya banyak kreatifitas dalam berkarnya. Hal ini dapat dilihat dari rutinitasnya dalam melakukan diskusi sastra bersama mahasiswa UAD itu sendiri maupun mereka yang sudah jadi alumni UAD. Semua itu tentu sangat membantu mereka mereka mahasiswa yang menekuni dunia sastra khususnya mahasiswa PBSI dalam mencari ilmu yang mungkin tak sempat mereka dapatkan di bangku kuliah.
Pada malam penganugrahan juara, meski jumlah peserta tidak mencapai target yang direncanakan oleh pihak panitia, namun nampaknya hal itu tidak mengurangi kemeriahan dan antusias mahasiswa dalam menantikan siapa yang akan keluar menjadi juara lomba. Dengan 2 pembawa acara yakni Ichsan Yunianto Nuansa Saputra dan Bibit Santoso, acara penganugrahan juara berlangsung dengan cukup meriah. Juri lomba puisi adalah seorang sastrawan Jogja yakni Bapak Hari Leo Air, beliu nampak menunggu giliran di barisan paling belakang peserta lomba yang dengan santainya duduk sambil menikmati rokok kretek.
Acara pertama diisi dengan membacakan nama-nama pemenang lomba, mulai dari Juara harapan 2 yang di juarai oleh Widya Prana Rini, kemudian Juara harapan 1 oleh Niswatun Khasanah, Juara 3 oleh Ari Prasetyo Nugroho, Juara 2 oleh Arfiansyah Panji Punandaru dan Juara pertama yang dijuarai Oleh Aditya Dwi Yoga. Masing-masing pemenang mendapatkan trofi dan juga sertifikat, sedang peserta yang masih belum mendapatkan kesempatan menjadi juara pada event tersebut mendapatkan buku dokumentasi puisi tak terkecuali mereka yang menjadi juara lomba. buku dokumentasi tersebut berjudul Manusia Cinta.
Setelah serah terima penghargaan, acara dilanjutkan ke bagian bedah puisi. Pemateri malam itu ialah Bapak Wahid Eko Purwanto yang juga dosen PBSI UAD, beliau bersama Juri lomba yakni Bapak Hari Leo Air di Moderatori oleh Angga Trio Sanjaya yang juga mahasiswa PBSI UAD. Pada malam itu yang tak kalah menarik ialah turut hadirnya para mahasiswa asing Cina yang juga merupakan mahasiswa UAD. Mahasiswa-mahasiswa tersebut datang dengan didampingi oleh Iqbal H Saputra yang merupakan Alumni PBSI UAD, dan mereka berjumlah 9 orang.
Acara selesai sekitar pukul 22.00 WIB. Sebelum berakhirnya acara sempat dilakukan sesi tanya jawab antara peserta lomba dan pemateri. Dalam sesi tanya jawab yang cukup singkat itu Bapak Leo mengungkapkan beberapa hal penting tentang berpuisi. “Puisi tidak menjanjikan apa-apa, tetapi kenapa kita masih menulis puisi” ujarnya. Maksud daripada kata kata itu ialah betapa puisi memang bukanlah prioritas utama hidup seseorang, namun nampaknya puisi selalu punya tempat yang istimewa dalam diri tiap manusia. Dan seakan tak mau kalah, Bapak Wahid juga ikut menimpali, “puisi itu harus bercerita, apapun puisinya” tandas dosen yang selalu berpenampilan sederhana ini.


(Rio Pamungkas)

By Blog KRESKIT with No comments