Kreskit Periode 2013

Selamat datang di blog Kreskit (Kreativitas Kita). Jika Anda memiliki tulisan berupa artikel, opini, puisi atau cerpen silahkan kirim karya Anda ke email kreskit.uad@gmail.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Cerpen: Air Mata Harapan

Air Mata Harapan

Oleh: Tri Astuti Wahyuningsih

Air mata mulai menetes, hati terasa sakit dan pilu, hanya keheningan yang merasuk di sudut kamar. Aku hanya bisa terdiam dan mulai mengingat kenangan yang dulu tercipta. Satu bayi mungil keluar dari perut ibu semakin berjalannya waktu mulai tumbuh beranjak remaja dan dewasa. Belaiaan yang dulu selalu hadir disetiap tidurku kini semakin luntur degan berjalannya waktu.

“Nduk sekarang kamu sudah besar, sudah bisa menjaga dirimu sendiri tanpa ada pengawasan dari Ibumu lagi”. Dengan penuh rasa sayang ibu mengatakan itu. Sebuah kepercayaan sudah diamanatkan untuk aku emban. Kepercayaan itu aku gunakan untuk terbang bebas mencari ilmu yang bermanfaat dan kelak akan membawaku ke massa yang indah bersama orang yang aku sayangi. “Ya Bu, doakan aku sukses ya.”

“Ibu selalu mendoakanmu disetiap sujud, jangan khawatirkan Ibu dan Bapakmu, Nduk. Belajarlah yang tekun, jadilah orang sukses agar kelak Ibu dan Bapak bisa melihat kesuksesanmu.”

Hatiku tersengat mendengar jawaban Ibu, hatiku gerimis, kupeluk erat tubuh Ibuku, ku ciumi tangan beliau. Dan ku tatap nanar dengan terbata ku katakana,

“Ibu, aku sayang sekali sama Ibu, terimakasih atas kasih sayang yang kau berikan. Aku akan menjaga kepercayaanmu Ibu, aku disini tak kan berbuat yang mengecewakan Ibu, berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi. Maaf kan anakmu ibu jika dulu waktu kecil ku selalu membantah perintahmu.”

***

Hari yang ditunggu sudah datang, sekitar pukul 9.00 wib. mobil yang membawaku pergi untuk merantau datang untuk menjemputku. Tatapan seorang Ibu yang berat untuk melepaskan anak terakhirnya nampak jelas di raut mukanya. Mata yang merah menahan air mata yang meleleh agar nampak ceria di depanku.

“Ibu aku pamit dulu, doakan aku berhasil mencari ilmu yang banyak di negeri rantauan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Ibu permintaanku hanyalah sebuah doa yang tulus Ibu panjatkan.” Air mataku bercucuran.

“Ya anakku belajarlah dengan sungguh-sungguh agar kelak menjadi orang sukses. Tetap pegang nasehat Ibu. kepercayaan yang sudah Ibu dan Bapak berikan jaga dirimu di negeri yang asing.” Suaranya lirih menitihkan air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.

“Ya Ibu aku akan selalu ingat pesan itu, selalu disimpan didalam memori hpku Bu.” sambil mengusapkan air mata dan tertawa. Ibu pun jadi ikut tertawa.

Sayang kepergianku Ibu dan Bapak tak bisa mengantarku sampai rumah kedua yang akan aku tempati selama merantau. Tapi tidak apa, doa dan senyuman Ibu akan aku ingat sampai kapanpun.

Aku mengecup pipi dan tangan Ibu dan Bapak dan menyalami semua yang ada dirumah. Aku mulai memasuki mobil dalam hati berkata.

“Aku akan meninggalkan desa ini, desa yang penuh liku-liku perjalananku saat mencari ilmu. Sekarang jalan yang harusku tempuh berbeda jalan. Selamat tinggal, aku pulang dengan membawa perubahan dan membawa beribu-ribu karung ilmu yang akan aku salurkan kepada generasi muda di desa ini. Akan ku ceritakan pengalaman yang sungguh belum pernah mereka jumpai dan mereka kenal. Ibu tetaplah tersenyum aku akan kembali dengan membawa kenginginanmu.”



By Blog KRESKIT with No comments

Rabu, 10 April 2013

Cerpen: Hartini

 Hartini
Oleh: Utami Pratiwi

“Ibu hanya bisa meninggalkan Rama sebagi teman hidupmu. Jaga dia Har, jangan biarkan ia membuat perempuan menangis seperti apa yang dilakukan Bapakmu selama ini kepada Ibu.”

            Sudah lima belas tahun lalu pesan itu kuterima. Tapi rasa-rasanya baru kemarin sore. Ah, memang. Selalu ada cara untuk mengingatmu Bu, juga pada malam seperti ini. Dulu ketika pesan itu sampai di telingaku, aku tak begitu tahu. Dalam benakku hanya ingin meraih Rama dalam gendongan yang tak henti menangis. Tak hanya sampai di situ, paginya Rama selalu mengulang pertanyaan yang sama; mengapa Ibu sendirian dimasukkan dalam pusara?
Kala itu usia Rama belum genap empat tahun. Susah untuk menjelaskan pertanyaan kemana Ibu pergi. Ternyata malam membantuku menjawab.
“Bintang yang paling terang itu adalah Ibu, Rama.” Kataku menghentikan rengekan Rama kesekian kali.
“Ibu pergi ke atas sana tanpa mengajak Rama?” wajah polos itu bertanya sambil menunjuk ke angkasa.
“Belum, karena Ibu ingin melihat semua tingkah laku Rama.”
Sebuah alasan klasik seperti dalam kisah-kisah buku dongeng. Tapi ini nyata yang kualami. Mungkin saja kisah klasik itu ditulis berdasarkan kenyataan. Ah, siapa yang tahu.
Sekarang kembali kupandangi bintang. Juga bersama Rama. Jelas Rama sudah tahu cerita sebenarnya.  Sekarang usianya sudah 14 tahun dan aku memasuki 26 tahun. Oh ya Bu, sampai saat ini aku masih bisa memegang janji-janjiku. Rama tak pernah membuat perempuan menangis seperti pesan Ibu dulu.
“Aku tak pernah melihat Mbak Har menangis. Bahkan saat disakiti.” Ucapnya tanpa menatapku. Lebih asik menyaksikan bintang gemintang di langit.
“Buat apa menangis.” Sanggahku.
“Benar Mbak tidak kecewa dengan pernikahan Mas Bugi?”
“Mungkin itu jalan dari Tuhan.”
Bu, hampir saja kami hudup bertiga. Laki-laki itu bernama Mas Bugi. Ia berjanji akan menyuntingku lima bulan lalu. Kemudian sebulan ini ia menghilang, dan dua hari lalu ada sebuah undangan pernikahan datang. Ada nama Mas Bugi di situ, tapi cetakkan nama perempuan dalam undangan itu bukan namaku.
Kemarin malam Bu, dengan diam-diam aku menangis. Jelas aku bersembunyi agar Rama tak mendengar. Mungkin Ibu lupa, sebelum Ibu pergi, tak berpesan agar aku tak menangisi laki-laki seperti Ibu dulu menangisi Bapak.

Jogja, 5 April 2013

Utami Pratiwi, Pemimpin Umum Kreskit periode 2012-2013. Suka menulis, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Email utami_pratiwi88@yahoo.com

By Blog KRESKIT with No comments

Selasa, 09 April 2013

Sadar Karena Musibah


Cerpen Rio Pamungkas

            Kaliman adalah sebuah desa kecil yang berada didekat bantaran anak sungai bengawan solo. Desa yang sejuk dengan pepohonan sejenis mangga, kedondong, dan mlinjoini seakan menjadi payung payung raksasa yang siap meneduhkan hati bagi siapa saja orang yang melewatinya. Pagi itu udara sangat sejuk, seakan tak mau kalah dengan embun pagi, padi padi yang masih menghijau pun turut menyambutku dengan lambain lentik sulur daunya sepanjang perjalananku ke sekolah. Sekolahku memang terletak di Desa tetangga dan perjalanannya harus melewati pematang sawah sekitar 2 Kilo, jarak yang cukup menyebalkan untuk seukuran anak SMP sepertiku. Sebut saja namaku Lia, gadis desa 14 tahun yang suka mandi di kali, bukan hanya aku, Dhani,  Indri dan juga Agung adalah sahabat sahabat setiaku yang juga sama gemarnya menjadi petualang air. Aku adalah seorang anak petani yang kesehariannya selain bersekolah adalah membantu Ibu menanam padi saat musim tanam juga memanen padi saat musim panen telah tiba.
Menjadi seorang anak yatim memang terbilang menyedihkan untuk aku jalani, namun aku tak pernah patah semangat karena aku masih mempunyai seorang Ibu yang dengan tulus membesarkanku sampai sekarang. Ayah memang telah lama wafat, saat itu umurku barulah genap 6 tahun, sebuah peristiwa yang tidak pernah bisa aku lupakan dan menjadi pelajaran hidupku hingga aku beranjak dewasa.
***
“Pak tadi pagi Bapak dicari Pak Lurah, katanya ada perlu” ujar Ibu.
Ayah yang baru saja pulang dari membersihkan hama rumput di sawah padinya segera bergegas menuju balai desa yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah.
“Ayah..., Lia boleh ikut?” pintaku.
“Jangan.., Lia temani Ibu saja dirumah, Ayah cuman ada urusan sebentar ko” jawab Ayah.
“Ayolah yah..., ajak Lia.., Lia ingin jalan jalan sama Ayah..”
“Sudahlah Pak..., diajak saja anaknya, bapak dari seharian juga disawah, Lia anak kita merasa kehilangan ayahnya” sahut Ibu.
“Tapi...”
“Sudah ajak saja daripada Lia ganggu Istrimu ini masak lodeh kesukaanmu. Apa mau nanti jadi keasinan gara gara dimasukin garam sama anakmu?”
“Yasudah kalo gitu..”
Aku dan ayah akhirnya berangkat bersama menuju balai desa, sesuai apa yang telah disampaikan Ibu yang mendapat amanah dari Pak lurah. Seakan tamu kehormatan, sesampainya dibalai desa kami langsung disambut oleh warga yang sudah lebih dulu hadir dan tak lama kemudian Pak lurah juga datang menghampiri kami berdua yang kelihatannya memang kamilah yang paling terakhir datang.
“Maaf Pak lurah, saya baru pulang dari sawah, tadi ada sedikit masalah di sawah, bnyak smpah masuk ke irigasi” ujar Ayah.
“Oh ya, Pak Joyo tidak perlu khawatir, kita juga baru akan mulai” sahut Pak Lurah.
“Ngomong-ngomong rapatnya mau bahas masalah apa ya pak?”
“Anu.., itu lho Pak.., air di tanggul udah sangat tinggi gara gara hujan yang terus terusan turun minggu minggu ini, soalnya resapan air di sekitar tanggul penuh dengan sampah warga bantaran sungai” jawab Pak lurah.
Ayah dan pak lurah kemudian masuk ke dalam pendopo yang memang sudah sejak dulu  dijadikan tempat untuk berkumpul warga baik acara rapat maupun acara keagamaan, bahkan terkadang juga acara resepsi pernikahan diadakan di tempat tersebut karena saking luasnya. Bukan hanya itu pendopo desa kami memang terkenal indah dan megah apalagi dengan ukir ukiran khas Jawanya.
Selang beberapa saat acara dimulai aku melihat Indri memanggil manggilku dari balik pohon dekat pendopo.
“Lia..., sssth... Lia.., sini...!”
“Ya... sebentar In..” aku bergegas menghampirinya dan ayah pun membiarkanku pergi menemui temanku.
“Ayo ke kali.., airnya lagi banyak.., Dhani sama Agung udah nungguin nih, cepet !”
“Sip.., aku juga mumpung lg belom mandi dari pagi, ahihihi..”
“Ih.. dasar Lia.. jorok banget..., aku joga belom, hahaha” kamipun tertawa terbahak bahak.
Tak lama kemudian kamipun tiba di pinggir kali yang favorit tempat kita biasa mandi, yakni kali di pinggir waduk, di sana sudah ada Dhani dan Agung yang sejak tadi menunggu kedatangan kami di bawah pohon pisang dekat kali.
“Lho.. kok ada monyet dipinggir kali sih..” ledekku.
“wuu... udah telat pake ledekin kita kamutu Ia..” sahut Dhani.
“Ia nih.., Dhani kan kebo bukan monyet” celetuk Agung.
“Asem.. kamu Gung, mau aku dudukin apa badanmu itu biar remuk sekalian” balas Dhani.
“Udah udah.., kaok jadi pada berantem sih, katanya mau main dikali?” sambungku.
“Siip... deh kalo itu..” jawab Dhani dan Agung serentak.
Dhani memang punya postur yang cukup gendut dan Agung mempunyai badan yang kurus, namun kalo masalah renang baik Dhani maupun Agung tidak bisa diremehkan meskipun kita masih precil, sedangkan Indri anak perempuan yang punya postur paling tinggi diantara semuanya meskipun kita semua seumuran, sedangkan aku yang paling pendek tapi kulitku adalah yang paling putih karena konon katanya nenekku adalah keturunan Cina.
Kamipun satu persatu mulai menceburkan diri ke kali, byur byur byur..,masing masing dari kami meloncat dari dahan pohon mangga yang memang posisinya menjorok ke atas kali, namun aku heran karena tidak melihat Agung ikut menceburkan diri.
“Dhan.., Agung kemana..?” tanyaku
“Ndak tau.., perasaan dia tadi dibelakangku Ia”
Tiba tiba dari arah belakang muncul Agung yang naik di atas pohon pisang yang dibuat seperti rakit. Ternyata Agung memang sengaja tidak ikut melompat karena ingin menunjukkan mainan barunya kepada kami.
“Wuih,. Kreatif juga kamu Gung..” tukas Indri.
“Ia.., boleh dong aku ikut naik?” pinta Dhani.
“wuh... ya jangan.., bisa tenggelam ini kapalku kalo kamu yang naikin,” jawab Agung
“Ahh... ga asik kamu Gung..., punya mainan di pake sendiri, dasar pelit..” celetuk Dhani.
“Hala... yasudah to.., kamu ga usah ikut naik kan ga apa tho Dhan.., lha kamu ga naik apa apa juga udah ngapung kok” sahutku.
“Hahahahah... “ Semuanya tertawa.
Saat kami sedang asik mandi dikali tiba tiba hujan turun, namun seakan tak perduli justru kita makin asik main dikali, dan di sisi lain Ayah yang sudah selesai melaksanakan acara rapat kebingungan mencariku karena sesampainya dirumah Ayah tidak mendapatiku dan hujanpun justru semakin deras turun sehingga semakin membuat Ayahku cemas.
“Buk.. lia anak kita kemana?”
“Lho... Bapak ini gimana tho.., kan tadi pergi sama Bapak..” jawab Ibu.
“Aduh..., kemana perginya anak ini, udah ujan begini kok tidak pulang pulang?”
“Piye Pak..., cepet dicari.. nanti anak kita kenapa napa..!” pinta Ibu.
Ayah dengan tergopoh gopoh mengambil payung yang tersandar di samping pintu lalu segera mencariku tanpa banyak tanya lagi.
***
“Lia.., Pulang yuk... aku takut Bapak Ibuku nyariin aku..” ajak Indri.
“Ahh.. nanggung Ndri..., lagi asik nih kita..., airnya jadi berombak kaya dilaut..” sahut Dhani.
“Ia nih Ndri.. lagi asik.., bentar lagi yah, kapal kapalannya seru nih” rayuku.
Tak lama kemudian air tiba tiba bergelombang kuat, kami yang tadinya asik bermain pun menjadi takut dan segera menuju ketepian. Agung yang berada di atas rakit langsung meloncat ke air dan berenang menepi begitu juga Dhani, sedangkan aku dan Indri masih di atas rakit.
“Lia.. ayo cepetan ke tepi..”
“Ia bentar.., aduh.. kakiku kejepit ini...” jawabku
“Lia.. aku takut nih..,” Indri semakin takut dan terlihat hampir menangis.
“Yasudah kamu duluan aja, aku nyusul bentar lagi”
Indri pun menyusul Agung dan Dhani yang sudah hampir sampai ke tepi, sedang aku sibuk mencabut kakiku yang terjepit diantara sela-sela rakit yang terbuat dari batang pohon pisang. Tak lama kemudian terlihat dari kejauhan nampak air bah yang menderu menuju tempatku berada. Seketika itu aku hanya bisa berteriak dan menangis minta tolong. Agung dan Dhani  yang sudah sampai ke tepi pun hanya bisa memanggilku dan berteriak minta tolong, sedangkan Indri hanya menangis melihatku tak berdaya di tengah tengah kali yang semakin membuatku terombang-ambing.
Air bah semakin mendekat dan aku hanya bisa pasrah, ketika aku sudah merasa sudah tidak ada harapan lagi tiba tiba terdengar suara seseorang meloncat ke arahku. Byur..., nampak seseorang berenang dengan cepat ke arahku, aku pun hanya bisa berdoa semoga aku bisa segera diselamatkan. Betapa terkejutnya aku ketika aku tahu orang yang berenang kearahku adalah Ayahku sendiri yang sedari tadi mencariku karena tak kunjung pulang. Ayah melepaskan kakiku dari sela batang pisang dan kemudian menggendongku sambil berenang menuju ketepian, namun ketika aku dan ayah hampir sampai ketepi tiba-tiba air bah menghantam kami dan yang terakhir dapat ku ingat saat itu tubuh kecilku terlempar ke pinggir sungai dan ayahku sendirilah yang melemparkanku. Didepan mataku sendiri aku melihat Ayah tergulung arus sungai hingga tak terlihat lagi tubuhnya, tubuh yang setiap hari kulihat, tubuh yang selalu sabar memelukku ketika aku hendak tidur, tubuh yang selalu menyayaiku tanpa pertanyakan apa yang bisa kau baktikan pada Orang Tua. Aku menais, menangis sejadi jadinya. Namun suara hujan dan guntur yang semakin menjadi jadi seakan tak mau kalah dengan jeritan kesedihanku. Aku memanggil ayahku berulang ulang, “Ayah.... Ayah... Ayah...,” namun tak kudengar juga suara Ayahku membalas panggilanku.
***
Sejak saat itu aku menjadi seorang anak yatim, Ayahku dapat ditemukan warga pada esok harinya setelah warga bersama sama menelusuru sungai tempatku bermain, Ibuku yang sudah lama menunggu akhirnya jatuh pingsan ketika melihat jasad Ayahku berhasil ditemukan dan aku pun hanya bisa meratapi kenakalanku sambil menangis tak henti-hentinya. Beberapa hari setelah musibah terjadi terdengar kabar warga bahwa air bah yang saat itu menghantam desa kami terjadi karena sampah-sampah yang dibuang kesungai dan nyebabkan volume air naik sehingga terjadilah banjir. Sejak saat itu warga tidak lagi membuang sampai di Kali-kali, dan aku yang kehilangan sosok Ayah selalu melihatnya tersenyum ketika aku duduk melihat jernihnya air di Desaku.
“Ayah...”
Rio Pamungkas
Yogyakarta, 29 Februari 2013

By Blog KRESKIT with No comments

Senin, 30 Mei 2011

cerpen Mading ed. Juni 2011


Nama    :               Subagiyo
NIM        :               08003009

Suara

Suara...

Suara yang selalu membuat saya mual karena suara yang tak pernah saya kehendaki. Pengen muntah saat mendengarkannya. Bukan mendengarkannya melainkan terdengar oleh kuping saya sebab saya tak pernah benar-benar ingin mendengarkannya. Jadi pengen muntah, mengeluarkan semua yang saya telan tadi waktu jam kosong didepan kampus, es cendol yang sudah usang berubah warna menjadi lebih pudar seperti cacing karena sudah terkena asam didalam lambung,  bersama lendir-lindir dan bau yang sedikit menyengat bersama bakwan malang yang bentuknya sudah seperti kotoran babi, lencret dan sangat menjijikan.

“ huft... tak apalah demi masadepan ”
saya akan mendengarkannya...

Suara yang selalu membuat saya muak bersama suara kipas angin tua yang tak pernah berhenti berputar karena selalu itu-itu saja yang terdengar, sedikit pengetahuan banyak cerita tentang kehidupannya yang dibicarakan, bukan dibicarakan melainkan diceritakan dengan bangganya. Kalau dibicarakan semua bisa mendiskusikannya atau menanyakannya? Tetapi bercerita dengan bangga seakan tak ada seorang pun yang sehebat dia walaupun saya tak pernah mau tahu dengan itu! Brengsek!!! Dalam hati berkata. Jadi muak pengen membanting apa pun yang ada didepan saya, seperti saat saya melihat cewek cantik dan manis, berboncengan mesra diatas sepeda motor bersama dengan cowok jelek item, rambutnya keriting, kumal, mlulutnya kayak bemo  dan tak rapi sedikit pun yang tak lebih baik dengan Latiep teman kuliah yang selalu duduk disebelah kiri saya dengan bibir jontornya. Didalam hati saya berkata, betapa tidak adilnya dunia ini?

By Blog KRESKIT with No comments

Kamis, 13 Januari 2011

CERPEN mading edisi Desember 2010

MADING

BUNDA, AKU SAYANG BUNDA...
Waktu fajar telah tiba,suara adzan shubuh mulai berkumandang dimana-mana. Mata yang aku pejamkan perlahan-lahan terbuka. Kulihat kearah jam dinding di kamarku yang telah menunjukan pukul 04.30 WIB, dengan cepat aku bangun dari tempat tidurku dan bergegas untuk mengambil air wudhu. Aku menoleh ke arah ruang tamu, ternyata bunda sudah pulang bekerja. Aku langsung mengambilkan selimut dan kuselimuti bunda. Sengaja aku tidak membangunkannya, mungkin sekarang dia kelelahan sehabis bekerja, sampai ia tertidur di sofa.   Selesai aku berwudhu, aku pakai sarung dan juga baju koko berwarna putihku dan ku siap untuk melaksanakan shalat shubuh berjama'ah di masjid. Aku mulai beranjak keluar dari rumahku ,setapak demi setapak ku mulai berjalan menuju masjid yang dekat dengan rumahku .
Sesampai di masjid aku mulai shalat shubuh berjama'ah dengan khusyuk. Selesai shalat aku tidak pernah lupa berdo'a untuk kedua orangtuaku ,terutama aku berdo'a untuk ayahku yang sudah lama meninggalkan aku. Semoga ayah tenang di alam sana  dan segala dosa-dosanya di ampunkan oleh Allah SWT,dan aku juga tidak pernah lupa berdo'a untuk bundaku,semoga bunda diberikan kesabaran dan kemudahan dalam menghadapi pekerjaanya, karena semenjak ayahku meninggal bundalah yang bekerja menggantikan ayah. Setelah do'aku selesai aku mulai beranjak untuk pulang. Kubuka pintu rumahku dengan pelan-pelan dan hati-hati agar aku tidak membangunkan bunda yang sedang tertidur pulas di sofa . Aku berjalan menuju dapur untuk membuat segelas teh panas. Karna hari ini hari minggu aku bebas karna tidak ada kelas.   "Lagi apa Ram?" tanya neneku sampai mengagetkanku.   "Lagi buat teh manis nek,buat bunda!" jawabku kepada nenek.  "Bunda sudah pulang? sejak kapan?" tanya nenek kepadaku lagi.   "Sudah nek ,tadi shubuh pulangnya sekarang bunda sedang tertidur pulas di sofa!" jawabku lagi.   "Oh ya sudah nenek mau shalat shubuh dulu, nanti  baru bertemu bunda!".

By Blog KRESKIT with No comments